|
Masih ingat dengan gambar disamping? Waktu belajar
Biologi di sekolah dulu, kita pasti bertemu dengan bagian yang membahas
soal “peta lidah”, yang memaparkan perbedaan kepekaan masing-masing area di
lidah terhadap rasa tertentu.
Para
ilmuwan sebetulnya sudah lama menyadari bahwa pendekatan ini adalah keliru.
“Peta lidah” ini sebenarnya adalah hasil kesalahan interpretasi terhadap
sebuah penelitian yang dilaporkan pada sekitar akhir abad ke-19. Pada
kenyataannya, seluruh bagian lidah yang mengandung bintil pengecap memiliki
kepekaan yang sama terhadap segala macam rasa. Sayangnya, kesalahan ini
terlanjur “mendunia” sehingga sulit untuk dikoreksi lagi.
Menariknya,
sebagian besar orang yang pernah belajar soal “peta lidah” sebenarnya sudah
menyadari bahwa ada yang salah didalamnya. Kita toh bisa mencecap manisnya
gula, atau pahitnya rasa kopi di seluruh permukaan lidah. Tapi kita
cenderung lebih percaya pada guru, ketimbang lidah kita sendiri. Sang guru
juga mungkin punya keraguan yang sama, tapi ia juga lebih percaya buku
ketimbang panca inderanya. Begitu pula halnya dengan para penulis buku
maupun penyusun kurikulum.
Sayangnya,
metode pendidikan yang kita anut sering tidak cukup memberi ruang bagi
tumbuhnya sikap kritis. Dalam kultur kita yang kelewat menomorsatukan sopan
santun, batas antara sikap kritis dengan kekurang-ajaran terkadang sangat
tipis. Kasus “peta lidah” hanyalah salah satu contoh kekonyolan sistem
pendidikan kita yang kelewat dogmatis. Walaupun hal ini sudah banyak
disadari, buku diktat Biologi terbitan terbaru kita masih juga memuatnya
untuk dijejalkan ke otak para siswa.
Benarlah
kata J. Robert Oppenheimer: There must be no barriers for freedom of
inquiry. There is no place for dogma in science. The scientist is free, and
must be free to ask any question, to doubt any asssertion, to seek for any
evidence, to correct any errors.
|
No comments:
Post a Comment